Popular post

Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label danau toba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label danau toba. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa Univa yang Hilang di Danau Toba Belum Ditemukan

Written By Unknown on Senin, 28 Oktober 2013 | 21.15

Mahasiswa Univa yang Hilang di Danau Toba Belum Ditemukan


Samosir. Jenazah seorang mahasiswa asal perguruan tinggi swasta Universitas Alwashliya (Univa) Medan, Fadlan Batubara (20), yang tenggelam di perairan Tomok, Simanindo, Danau Toba, Samosir, hingga Senin (28/10), belum ditemukan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purnamawan Malau, mengatakan saat ini tim SAR Medan, Satuan Polisi Air Parapat dibantu BPBD Samosir terus berupaya melakukan pencarian korban hilang.

"Pencarian korban akan dilanjutkan hari Selasa (29/10)," ujar Purnamawan Malau. Pencarian masih dilakukan di sekitar titik lokasi ketiga mahasiswa melompat ke Danau Toba. Ia lalu merinci kronologi peristiwa itu.

"Awalnya, tiga mahasiswa Univa Medan, Fadlan Batubara (20) yang merupakan warga Dolok Masihol, dikabarkan hilang. Sementara Alif (20) warga Tanjungbalai berhasil selamat bersama Restu (20) warga Medan," katanya. Kejadian itu terjadi Sabtu, (26/10) sekira jam 24.00 WIB.

Saat itu, kata dia, kapal yang ditumpangi Fadlan bersama rekan-rekannya akan tiba di dermaga Tomok dengan jarak sekitar lima puluh meter. Ketiganya pun saling tantang siapa yang bakal lebih cepat berenang. Namun akibatnya, satu mahasiswa hilang.

Kapolres Samosir AKBP Andry Setiawan, membenarkan kejadian satu orang hilang adalah adalah rombongan mahasiswa dari Kampus Alwashliyah Medan.

Sementara itu, salah seorang dosen FKIP Univa yang ikut rombongan, Endi Marshal Dalimunthe, menjelaskan ada 64 mahasiswa yang ikut rombongan dalam kapal itu. Mereka baru selesai mengikuti malam inagurasi di Parapat. Rencananya, hari ini mereka akan pulang ke Medan setelah berkunjung ke Tomok. "Mereka baru mengikuti malam inagurasi, dan kami akan pulang ke Medan setelah dari Tomok," tutur Endi Marshal Dalimunthe.

Ulos Batak Menjadi Lambang Festival Danau Toba 2014

Written By Unknown on Senin, 23 September 2013 | 13.50

Ulos Batak Menjadi Lambang Festival Danau Toba 2014

Ulos Batak akan dijadikan sebagai ikon pada Festival Danau Toba 2014 oleh Pemkab Toba Samosir yang ditunjuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi tuan rumah pelaksanaan festival budaya yang akan deselenggarakan sekitar Juni 2014.

"Kami mengandalkan Ulos Batak menjadi ikon pada pelaksanaan pesta rakyat yang akan diselenggarakan pada Juni atau Juli bertepatan dengan hari libur sekolah," ujar Bupati Toba Samosir, Kasmin Simanjuntak di Balige, Minggu (22/9/2013).

Bahkan, menurut Kasmin, pihaknya merencanakan pembuatan ulos terpanjang yang disain dan ukuran detailnya masih dalam pengkajian.

Bagi suku Batak, Ulos tidak hanya berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan, lambang komunikasi, dan lambang solidaritas.

Tenun ikat Batak itu memiliki fungsi simbolik yang tidak dapat dipisahkan dalam aspek kehidupan orang Batak dengan berbagai jenis serta motifnya yang menggambarkan makna tersendiri.

Kasmin mengaku, sebenarnya pihaknya belum sanggup melaksanakan agenda nasional berskala internasional tersebut. Tapi, karena mendapat dukungan dari sesepuh masyarakat Batak, TB Silalahi, akhirnya penunjukan sebagai penyelenggara dalam FDT 2014 diterima oleh Pemkab Toba Samosir.

"Wamenparekraf Sapta Nirwandar menunjuk Pemkab Toba Samosir menjadi tuan rumah pada pelaksanaan FDT 2014," ujarnya.

Dengan adanya penunjukan tersebut, menurut Kasmin, pihaknya langsung bergerak cepat untuk mempersiapkan festival, termasuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, kata Kasmin, akan mengucurkan dana sekitar Rp 20 miliar, yang akan digunakan Pemerintah setempat membangun infrastruktur serta sarana dan prasarana olahraga. "Kami akan bangun dua tribun, dan salah satunya di Lapangan Sisingamangaraja Balige, sementara untuk dana lainnya akan dicarikan dari pihak sponsor," katanya.

Selain menyiapkan tim, lanjut Kasmin, pihaknya juga telah mempersiapkan waktu pelaksanaan festival tersebut yakni medio Juni hingga Juli, bertepatan dengan libur sekolah,  salah satu tujuannya untuk mendorong hadirnya masyarakat pada festival tersebut.

Untuk menyemarakkan kegiatan olahraga, kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Sumatera Utara itu akan mengandalkan arung jeram menyusuri sungai Asahan, karena objek wisata olahraga tersebut sudah mulai dikenal hingga tingkat internasional.

Kasmin menegaskan, hingga saat ini sudah banyak turis yang mencoba arung jeram di Asahan, sehingga lokasi tersebut akan diandalkan dalam pelaksanaan festival.

"Guna memenuhi akomodasi, sejumlah hotel telah dipersiapkan bagi tamu lokal maupun pengunjung asing, sementara infrastruktur jalan, sarana dan prasarana lainnya akan terus diperbaiki," tambah Kasmin.
nationalgeographic.co.id

Juara kembar di paralayang Festival Danau Toba

Written By Unknown on Senin, 16 September 2013 | 02.05

Juara kembar di paralayang Festival Danau Toba


Pulau Samosir (ANTARA News) - Persaingan menuju peringkat perdana nomor ketepatan mendarat senior paralayang di Festival Danau Toba 2013 menghasilkan juara kembar, Wahyu Yudha dan Jhoni Effendi, yang sama-sama meraih nilai 26.

Hasil dari panitia pelaksana yang diperoleh Sabtu, di Pulau Samosir, Sumatera Utara, menyatakan, Yudha meraih angka ketepatan 12 pada peluncuran pertama, kemudian tujuh, lima, dan dua. Tiap pilot berhak menempuh empat kali upaya peluncuran penerbangan.

Sementara Effendi meraih angka tiga, sembilan, lima, dan sembilan.

Peringkat ketiga nomor ketepatan mendarat senior diperoleh pilot Thomas Widiananto dari Jawa Tengah, dengan angka 33.

Nomor ketepatan mendarat senior paralayang pada Festival Danau Toba 2013 tidak membedakan antara pilot laki-laki dan perempuan.

"Bagus juga ada kategori untuk putri karena perempuan pilot yang ikut cukup banyak," kata perempuan pilot paralayang senior Indonesia, Lis Andriana, salah satu peserta yang turut berlomba.

Sementara itu, Aris Afriansyah dari Jawa Barat menempati urutan pertama untuk kategori junior, dia menghasilkan nilai 53 dari empat kali peluncuran. Setelah dia, menyusul Indira Lesmana dari DKI Jaya dengan nilai 78, dan Umar Suparman (Jawa Barat) yang beroleh nilai 97. 

Prinsip ketepatan alias akurasi mendarat sangat sederhana, kaki pilot diusahakan menginjak titik pusat sensor pendaratan elektronik yang merekam data pendaratan secara digital di meja pengawas dan juri lomba.

"Jadi selain teknik terbang dan manuver, teknik menjejakkan kaki di titik sasaran yang sangat kecil itu juga penting. Ini tantangannya," kata salah satu peserta.

Aturan dan prosedur pelaksanaan lomba internasional memperebutkan total hadiah uang sebanyak Rp225 juta ini mengacu pada aturan induk organisasi paralayang internasional, Federation L'Aeronotique de Internationale.

Danau Toba Dibahas Dalam Sosialiasi UU Nomor 12 Tahun 2011

Written By Unknown on Kamis, 12 September 2013 | 06.41

Danau Toba Dibahas Dalam Sosialiasi UU Nomor 12 Tahun 2011

Rencana Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tata Ruang Danau Toba yang kini sedang dalam tahap pembahasan harus turut melibatkan masyarakat sekitar.

Pengaturan tata ruang Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional
membutuhkan banyak masukan dari publik, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan di tujuh kabupaten seputar objek wisata itu.

“Jadi perlu hiring dengan warga sekitar Danau Toba, masyarakat harus dilibatkan,” kata anggota DPR, Ali Wongso Sinaga dari Fraksi Partai Golkar, pada acara Workshop, Sosialisasi Undang-Undang  nomor 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang diselenggarakan Badan Legislasi DPR RI, di Medan, Kamis (12/9).

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan sehari itu, dari akademisi dengan moderator Nurul Arifin yang juga anggota DPR RI. Sebagai waakil rakyat asal daerah pemilihan Sumatera Utara, Ali Wongso merasa penting untuk mengingatkan tentang aturan tata ruang kawasan strategis nasional, Danau Toba yang akan dibuat dalam bentuk Perpres tersebut agar senantiasa melibatkan masyarakat.

Sebagaimana diketahui terdapat tujuh kabupaten di sekeliling kawasan Danau Toba, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir.

Acara sosialisasi itu dibuka secara resmi Wakil Ketua Baleg DPR RI Achmad Dimyati Natakusumah bertujuan untuk  menyebarluaskan dan memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan UU Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Dia menyebutkan bahwa proses penyusunan Peraturan Daerah (Perda) harus selalu didasari dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.  Setiap Perda yang akan dibentuk juga tidak diperbolehkan bertentangan dengan Perundang-Undangan diatasnya. “UU Nomor 12 Tahun 2011 yang sedang disosialisasikan ini yang menjadi salah satu acuan dalam pembentukan Peraturan Daerah (Perda),” katanya.

Menurutnya, jangan sampai ada diskriminasi dalam penyusunannya sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan pada masyarakat. “Intinya peran masyarakat harus tetap ada karena ini konsekwensi demokrasi,”ujarnya.

Namun dalam kesempatan itu salah seorang peserta yang hadir mengungkapkan meskipun Perda maupun Perpres terlahir setelah melalui uji proses dari kajian akademisi. Namun terkadang kajian tersebut sering berdasarkan pesanan. Sehingga begitu banyak peraturan yang akhirnya terpaksa harus dibatalkan, bahkan pembatalan hanya dilakukan oleh Mendagri dan bukan oleh presiden.(beritasore.com)

Atlet Asing Batal Renang Keliling Danau Toba

Written By Unknown on Rabu, 11 September 2013 | 07.19

Atlet Asing Batal Renang Keliling Danau Toba

Samosir, (Antara Sumbar) - Atlet asing dari berbagai negara batal turun di kejuaraan renang internasional keliling danau terbesar di Indonesia dalam rangkaian Festival Danau Toba 2013 di Samosir, Sumatra Utara, Rabu.

Sebelumnya ada empat atlet asing yang diundang oleh panitia yaitu juara renang internasional Thomas Lurz dari Jerman, Spyridon Gianniotis dari Yunani, Martina Grimaldi dari Italia dan Poliana Okimoto dari Brazil. Hanya saja semuanya tidak bisa hadir.

Dengan batalnya atlet-atlet kelas dunia turun pada World Super Swim yang baru pertama kali digelar di Danau Toba ini, maka kejuaraan hanya diikuti oleh atlet-atlet nasional yang selama ini sudah kenyang pengalaman.

Sedikitnya 12 atlet putra dan putri berperan dalam kejuaraan yang dilepas oleh Bupati Samosir Mangindar Simbolon di Dermaga Hotel Dumasari, Samosir, Rabu pagi.

"Memang, atlet internasional batal turun di kejuaraan ini. Khusus tahun ini sifatnya baru ekshibisi meski sudah disetujui oleh FINA (federasi renang dunia)," kata salah satu penanggungjawab kegiatan renang keliling Danau Toba, Amir Husein.

Menurut dia, batalnya atlet asing disebabkan beberapa hal mulai singkatnya waktu pendaftaran hingga pelaksanaan serta proses pengurusan administrasi bagi atlet yang dibidik mengalami kesulitan.

Selama ini, kata dia, meski telah mendapatkan dukungan dari federasi renang masing-masing negara dimana atlet berasal, proses komunikasi hanya sebatas menggunakan surat elektronik.

"Seharusnya kita mendatangi langsung atlet yang dibidik. Lalu melakukan kontrak. Tapi saat ini belum bisa dilakukan. Butuh waktu sekitar satu tahun untuk proses ini," kata pria yang juga pengurus PRSI Pusat ini.

Meski tanpa atlet asing, kata dia, renang keliling Danau Toba ini tetap diikuti atlet nasional. Bahkan atlet ini telah beberapa kali turun pada kejuaraan internasional termasuk di Barcelona Spanyol beberapa waktu lalu.

Ditanya sistem perlombaan yang dilakukan, Amir Husein menjelaskan, 12 atlet sebelumnya dilepas secara bersamaan. Hanya saja setelah lima kilometer delapan atletnya naik ke kapal guna mempersiapkan diri untuk menggantikan posisi empat perenang lain.

"Setiap 10 kilometer akan ada pergantian. Hari ini harus menyelesaikan 40 kilometer dalam waktu sembilan jam. Setelah itu istirahat dan besok dilanjutkan lagi," kata Amir menegaskan.

Renang keliling Danau Toba yang sebelumnya dibidik untuk mendongkrak pesta bagi masyarakat Batak ini menempuh jarak kurang lebih 120 kilometer yang akan ditempuh dalam waktu tiga hari dengan sistem estafet.(antara)

Pencarian korban hilang akibat tabrakan

Written By Unknown on Selasa, 10 September 2013 | 11.41

Pencarian 4 korban hilang akibat tabrakan

Samosir - Pencarian 4 korban hilang akibat tabrakan 2 kapal di Danau Toba Kabupaten Samosir Sumut kembali dilanjutkan hari ini. Ada dua tim gabungan yang melakukan pencarian di sekitar tempat kejadian.

"Pencarian akan dilanjutkan hari ini dan kita dibantu Basarnas Propinsi Sumut, Dit Pol Air Poldasu dan Badan Nasional Penanggulan Bencana Daerah," ujar AKPB Donny Damanik Kapolres Samosir di Tuk Tuk Siadong, Senin (9/9/2013).

Awalnya pencarian korban akan dilakukan di sekitar radius 50 meter dari lokasi kejadian. Jika tidak ditemukan radius pencarian akan ditambah. Tim penyelam dari Basarnas Propinsi Sumut juga akan melakukan penyelaman.

"Biasanya korban tenggelam di Danau Toba akan muncul dalam radius 200 meter," ungkap Donny Damanik.

Ia juga menjelaskan, pihaknya masih memeriksa dua nahkoda kapal. Hingga kini mereka belum menetapkan status tersangka kepada keduanya.

"Kedua nahkoda masih diperiksa dan kita masih mempelajari apakah peritiwa kecelakaan itu disebabkan human error atau tidak," tambahnya.

Tabrakan dua kapal terjadi Minggu (8/9/913) sekitar pukul 10.30 WIB di perairan Tomok, Kabupaten Samosir. Kapal ferry Tao Toba I yang berangkat dari Tomok menuju pelabuhan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, bertabrakan dengan kapal penumpang pariwisata KM Yola yang berangkat dari arah sebaliknya.

Nama-nama korban hilang adalah Uji (23) warga Medan, Sandi (20) Medan Marelan, Susiono (30) warga Tanjung Morawa, dan Kujang (28) warga Lubuk Pakam Deli Serdang.(detiknews)

Festival Danau Toba

Written By Unknown on Senin, 09 September 2013 | 22.50

Festival Danau Toba

MEDAN - Festival Danau Toba (FDT) akan digelar secara meriah pada 8-14 September 2013 di Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Seluruh pemangku kebijakan dalam pesta tahunan ini berharap FDT 2013 dapat membangkitkan pariwisata di Sumut.

Pada tahun ini, gelaran yang sebelumnya bernama Pesta Danau Toba (PDT) tersebut langsung ditangani oleh Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kabupaten Samosir tahun ini menjadi pihak penyelenggara dengan dukungungan 11 Kabupaten/Kota di sekitar Danau Toba.

Masa keemasan pariwisata Sumut terjadi sebelum krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997-1998 silam. Wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Sumut, khususnya ke Danau Toba pada 1996 tercatat mencapai 4 juta orang.

Dinas Pariwisata Sumut mencatat khusus Wisman yang berkunjung ke Sumut pada 1995 mencapai 301.287 orang. Kemudian terus menurun pada 1996 tercatat 292.930 orang, pada 1997 mencapai 244.916, pada 1998 mencapai 141.899 orang, dan penurunan terbesar terjadi pada 1999 yang mencapai 89.271 Wisman.

Banyaknya jumlah Wisman terutama dari Eropa pada saat sebelum krisis ekonomi terjadi akibat adanya penerbangan langsung dari Eropa ke Bandara Internasional Polonia Medan yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan nasional maupun internasional. Namun, terjadinya krisis ekonomi mengakibatkan semua maskapai penerbangan menutup rute Eropa-Polonia sehingga membuat jumlah Wisman anjlok. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut melaporkan jumlah kunjungan Wisman pada 2012 mencapai 241.833 orang, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 223.126 orang. Sedangkan jumlah kunjungan Wisman sepanjang Januari-Juni 2013 mencapai 122.785 orang, naik 4,50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Khusus Wisman pada Juni 2013 justru mengalami penurunan 1,23% menjadi 23.420 orang dibanding Mei 2013 yang sebanyak 23.712 orang. Wisman Sumut masih didominasi warga negara Malaysia yang menempati urutan terbanyak mencapai 12.546 orang (56,57%), kemudian disusul Singapura sebanyak 2.003 orang (6,43%), China 750 orang (3,27%) dan Belanda 580 orang (2,03%).

Wisman asal Australia mengalami peningkatan kedatangan tertinggi yakni 59,94%, diikuti Amerika Sertikat 48,3%, lalu Taiwan sebesar 44,67%, Singapura sebesar 43,79% dan Belanda 25%. Sementara wisman asal Malaysia turun 13,67% dari 14.533 orang menjadi 12.546 orang dan dari China turun 12,79%.

Kendati demikian, jumlah Wisman yang berkunjung ke Sumut beberapa tahun terakhir belum mampu melampaui jumlah kunjungan sebelum krisis ekonomi 1997-1998. Padahal, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemkab/Pemkot di Sumut termasuk menggelar Pesta Danau Toba.

Pesta Danau Toba yang dimulai sejak 1980 sesungguhnya telah menarik wisatawan. Namun, gelaran pesta masyarakat Danau Toba ini sempat terhenti selama 4 tahun pada 1987 menyusul tragedi tenggelamnya kapal Peldatri. 

Untuk kembali menggairahkan pariwisata Danau Toba, pada 2002 Pesta Danau Toba diambilalih oleh Pemprov Sumut dari sebelumnya hanya dikelola oleh masing-masing kabupaten/kota. Sejak saat itu, PDT dikoordinir oleh Pemprov Sumut dengan dukungan masing-masing kabupaten/kota di sekitar Danau Toba.

Pelaksanaan PDT 2012 yang digelar di Parapat, Kabupaten Simalungun, pada 29-31 Desember diperkirakan hanya menggaet sekitar 10.000 wisatawan lokal. Pada tahun-tahun sebelumnya, gelaran PDT ditempatkan di Parapat dengan jadwal yang berubah-ubah. 

Bupati Samosir Mangindar Simbolon yang juga ketua panitia FDT 2013 menjelaskan mulai tahun ini gelaran pesta FDT akan dilakukan setiap minggu kedua pada bulan September. Hal itu dimaksudkan agar wisatawan dapat membuat perencanaan jadwal berkunjung ke Danau Toba setiap gelaran FDT jauh-jauh hari.

Dia mengakui Wisman yang berkunjung ke Sumut terutama asal Eropa sempat anjlok sejak masa keemasan 1995-1996. Berbagai kendala yang menjadi penyebab menurunnya jumlah Wisman terutama akibat penutupan penerbangan langsung Eropa-Medan saat krisis ekonomi.

"Sekarang jumlah Wisman sudah mulai naik lagi, kendalanya banyak faktor salah satunya sekarang sudah tidak ada lagi penerbangan langsung dari Eropa. Harapan kami setelah ada KNIA akan ada lagi penerbangan dari Eropa, tidak hanya dari Belanda," ujarnya kepada Bisnis, (Sumber Bisnis.com)

Parade Budaya Batak Buka Festival Danau Toba

Written By Unknown on Minggu, 08 September 2013 | 18.19

Parade Budaya Batak Buka Festival Danau Toba

Metrotvnews.com, Samosir: Parade budaya Batak secara resmi mengawali dibukanya Festival Danau Toba 2013 oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Open Stage, Samosir, Minggu (8/9).

Tarian Tortor Sawan massal yang diikuti oleh ratusan remaja putri menjadi pembuka festival terbesar dan diharapkan menjadi agenda internasional ini.

Mereka menari dengan diiringi alunan musik khas Batak. Saat ratusan remaja putri ini menari, ribuan orang yang hadir banyak yang histeris karena mereka menunjukkan keahliannya dalam memainkan cawan yang dibawanya. Bahkan beberapa cawan yang dibawa jatuh dan pecah. 

Kondisi ini membuat suasana lebih dramatis Setelah Tortor Sawan parade budaya dilanjutkan dengan Sulang-Sulang yaitu sebuah tradisi yang merupakan ungkapan terima kasih kepada orang tua. Saat Sulang-Sulang berlangsung, ribuan penonton  cukup menghayati ritual ini.

Selain Tortor Sawan dan Sulang-Sulang, pembukaan Festival Danau Toba 2013 juga dimeriahkan artis nasional dan artis-artis terkenal dari Tanah Batak.

Ketua Umum Festival Danau Toba 2013, Mangindar Simbolon mengatakan tema festival yang menggabungkan budaya dengan olahrag raga ini adalah "Arga Do Bona Ni Pinasa" atau menghargai tanah leluhur.

"Festival Danau Toba merupakan lanjutan dari Pesta Danau Toba yang selama ini digelar. Namun, untuk tahun ini dibuat lebih besar karena melibatkan banyak pihak," katanya di sela pembukaan festival.

Dengan adanya peningkatan kegiatan, kata dia, diharapkan Festival Danau Toba bisa menjadi kegiatan utama di Sumatra Utara maupun Indonesia sehingga mampu bersaing dengan kegiatan lainnya bahkan bisa lebih dikenal di seluruh dunia.

"Festival ini akan didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hingga lima tahun kedepan. Meski demikian harus mendapatkan dukungan pihak lain agar kegiatan ini lebih besar lagi," kata Wamenparekraf Sapta Nirwandar.

Setelah parade budaya selesai, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa secara resmi membuka Festival Danau Toba yang akan berangkhir 15 September nanti. Pembukaan festival ditandai dengan menabuh gendang khas Tanah Batak.

"Semoga festival ini bisa berdampak positif bagi masyarakat Samosir pada khususnya. Selain itu bisa meningkatkan ekonomi masyarakat," katanya di sela pembukaan.

Sebelum pembukaan Festival Danau Toba dilakukan ada beberapa prosesi yang dilakukan diantaranya menyebar daun sirih di tengah-tengah Danau Toba. Setelah itu dilanjutkan upacara penyambutan oleh para tetua Tanah Batak. (Antara)

Protes Kerusakan Hutan Danau Toba, Tiga Aktivis Kembalikan Penghargaan dari SBY

 Protes Kerusakan Hutan Danau Toba, Tiga Aktivis Kembalikan Penghargaan dari SBY

TRIBUNNEWS, JAKARTA - Tiga orang aktivis lingkungan asal Sumatera Utara mengembalikan penghargaan yang mereka dapatkan dari pemerintah sebagai bentuk protes mereka atas kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kawasan Danau Toba.

Marandus Sirait, Wilmar Simanjorang dan Hasoloan Manik adalah peraih penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup Kalpataru dan Wanalestari. Mereka menilai pemberian penghargaan tersebut tidak lebih dari selebrasi semata, karena tidak ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah untuk membantu upaya pelestarian lingkungan.

"Kami kembalikan kepada negara karena di seluruh kawasan di Danau Toba perusakan semakin tak terkendali, di depan mata, seolah-olah bebas saja tanpa hambatan," ujar Marandus Sirait di Sekretariat Walhi, Jakarta, Minggu (1/9/2013).

Sebagai penerima penghargaan Kalpataru dan Wanalestari dari pemerintah, mereka merasa turut memiliki beban moral jika ternyata pemerintah tidak mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan.

Oleh karenanya mereka mengembalikan penghargaan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral selaku peraih penghargaan.

Mereka menyebut saat ini kondisi ekosistem Danau Toba telah mengalami kerusakan dalam taraf yang cukup serius, hal tersebut nampak dari luas tutupan hutan yang terus berkurang dan kualitas air danau yang telah tercemar.

"Kami sudah adukan ke bupati, ke presiden SBY, kementerian LH, kemenhut, gubernur Sumut, Kejakgung, Mabes Polri, Kapolres Samosir. Menteri LH bilang hentikan itu (penebangan hutan) tapi cuma omong doang," ujar Wilmar Simanjorang.

Ia menilai Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai kawasan tujuan wisata dan kawasan strategi nasional harus dijaga kelestariannya, sehingga kegiatan yang bersifat merusak seperti penebangan hutan harus dihentikan, termasuk pemberian izin kepada perusahaan-perusahaan yang melakukan perusakan lingkungan.

Danau Toba Menurut Wikipedia

Written By Unknown on Kamis, 01 Agustus 2013 | 18.47

Danau Toba Menurut Wikipedia

Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.
Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.
Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.
Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.
Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.
Diberdayakan oleh Blogger.

Sejarah

Health

World News

Kategori

Random Post

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Berita Danau Toba - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger