Popular post

Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label event. Tampilkan semua postingan

Juara kembar di paralayang Festival Danau Toba

Written By Unknown on Senin, 16 September 2013 | 02.05

Juara kembar di paralayang Festival Danau Toba


Pulau Samosir (ANTARA News) - Persaingan menuju peringkat perdana nomor ketepatan mendarat senior paralayang di Festival Danau Toba 2013 menghasilkan juara kembar, Wahyu Yudha dan Jhoni Effendi, yang sama-sama meraih nilai 26.

Hasil dari panitia pelaksana yang diperoleh Sabtu, di Pulau Samosir, Sumatera Utara, menyatakan, Yudha meraih angka ketepatan 12 pada peluncuran pertama, kemudian tujuh, lima, dan dua. Tiap pilot berhak menempuh empat kali upaya peluncuran penerbangan.

Sementara Effendi meraih angka tiga, sembilan, lima, dan sembilan.

Peringkat ketiga nomor ketepatan mendarat senior diperoleh pilot Thomas Widiananto dari Jawa Tengah, dengan angka 33.

Nomor ketepatan mendarat senior paralayang pada Festival Danau Toba 2013 tidak membedakan antara pilot laki-laki dan perempuan.

"Bagus juga ada kategori untuk putri karena perempuan pilot yang ikut cukup banyak," kata perempuan pilot paralayang senior Indonesia, Lis Andriana, salah satu peserta yang turut berlomba.

Sementara itu, Aris Afriansyah dari Jawa Barat menempati urutan pertama untuk kategori junior, dia menghasilkan nilai 53 dari empat kali peluncuran. Setelah dia, menyusul Indira Lesmana dari DKI Jaya dengan nilai 78, dan Umar Suparman (Jawa Barat) yang beroleh nilai 97. 

Prinsip ketepatan alias akurasi mendarat sangat sederhana, kaki pilot diusahakan menginjak titik pusat sensor pendaratan elektronik yang merekam data pendaratan secara digital di meja pengawas dan juri lomba.

"Jadi selain teknik terbang dan manuver, teknik menjejakkan kaki di titik sasaran yang sangat kecil itu juga penting. Ini tantangannya," kata salah satu peserta.

Aturan dan prosedur pelaksanaan lomba internasional memperebutkan total hadiah uang sebanyak Rp225 juta ini mengacu pada aturan induk organisasi paralayang internasional, Federation L'Aeronotique de Internationale.

Danau Toba Dibahas Dalam Sosialiasi UU Nomor 12 Tahun 2011

Written By Unknown on Kamis, 12 September 2013 | 06.41

Danau Toba Dibahas Dalam Sosialiasi UU Nomor 12 Tahun 2011

Rencana Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tata Ruang Danau Toba yang kini sedang dalam tahap pembahasan harus turut melibatkan masyarakat sekitar.

Pengaturan tata ruang Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional
membutuhkan banyak masukan dari publik, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan di tujuh kabupaten seputar objek wisata itu.

“Jadi perlu hiring dengan warga sekitar Danau Toba, masyarakat harus dilibatkan,” kata anggota DPR, Ali Wongso Sinaga dari Fraksi Partai Golkar, pada acara Workshop, Sosialisasi Undang-Undang  nomor 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang diselenggarakan Badan Legislasi DPR RI, di Medan, Kamis (12/9).

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan sehari itu, dari akademisi dengan moderator Nurul Arifin yang juga anggota DPR RI. Sebagai waakil rakyat asal daerah pemilihan Sumatera Utara, Ali Wongso merasa penting untuk mengingatkan tentang aturan tata ruang kawasan strategis nasional, Danau Toba yang akan dibuat dalam bentuk Perpres tersebut agar senantiasa melibatkan masyarakat.

Sebagaimana diketahui terdapat tujuh kabupaten di sekeliling kawasan Danau Toba, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir.

Acara sosialisasi itu dibuka secara resmi Wakil Ketua Baleg DPR RI Achmad Dimyati Natakusumah bertujuan untuk  menyebarluaskan dan memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan UU Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Dia menyebutkan bahwa proses penyusunan Peraturan Daerah (Perda) harus selalu didasari dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.  Setiap Perda yang akan dibentuk juga tidak diperbolehkan bertentangan dengan Perundang-Undangan diatasnya. “UU Nomor 12 Tahun 2011 yang sedang disosialisasikan ini yang menjadi salah satu acuan dalam pembentukan Peraturan Daerah (Perda),” katanya.

Menurutnya, jangan sampai ada diskriminasi dalam penyusunannya sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan pada masyarakat. “Intinya peran masyarakat harus tetap ada karena ini konsekwensi demokrasi,”ujarnya.

Namun dalam kesempatan itu salah seorang peserta yang hadir mengungkapkan meskipun Perda maupun Perpres terlahir setelah melalui uji proses dari kajian akademisi. Namun terkadang kajian tersebut sering berdasarkan pesanan. Sehingga begitu banyak peraturan yang akhirnya terpaksa harus dibatalkan, bahkan pembatalan hanya dilakukan oleh Mendagri dan bukan oleh presiden.(beritasore.com)

Atlet Asing Batal Renang Keliling Danau Toba

Written By Unknown on Rabu, 11 September 2013 | 07.19

Atlet Asing Batal Renang Keliling Danau Toba

Samosir, (Antara Sumbar) - Atlet asing dari berbagai negara batal turun di kejuaraan renang internasional keliling danau terbesar di Indonesia dalam rangkaian Festival Danau Toba 2013 di Samosir, Sumatra Utara, Rabu.

Sebelumnya ada empat atlet asing yang diundang oleh panitia yaitu juara renang internasional Thomas Lurz dari Jerman, Spyridon Gianniotis dari Yunani, Martina Grimaldi dari Italia dan Poliana Okimoto dari Brazil. Hanya saja semuanya tidak bisa hadir.

Dengan batalnya atlet-atlet kelas dunia turun pada World Super Swim yang baru pertama kali digelar di Danau Toba ini, maka kejuaraan hanya diikuti oleh atlet-atlet nasional yang selama ini sudah kenyang pengalaman.

Sedikitnya 12 atlet putra dan putri berperan dalam kejuaraan yang dilepas oleh Bupati Samosir Mangindar Simbolon di Dermaga Hotel Dumasari, Samosir, Rabu pagi.

"Memang, atlet internasional batal turun di kejuaraan ini. Khusus tahun ini sifatnya baru ekshibisi meski sudah disetujui oleh FINA (federasi renang dunia)," kata salah satu penanggungjawab kegiatan renang keliling Danau Toba, Amir Husein.

Menurut dia, batalnya atlet asing disebabkan beberapa hal mulai singkatnya waktu pendaftaran hingga pelaksanaan serta proses pengurusan administrasi bagi atlet yang dibidik mengalami kesulitan.

Selama ini, kata dia, meski telah mendapatkan dukungan dari federasi renang masing-masing negara dimana atlet berasal, proses komunikasi hanya sebatas menggunakan surat elektronik.

"Seharusnya kita mendatangi langsung atlet yang dibidik. Lalu melakukan kontrak. Tapi saat ini belum bisa dilakukan. Butuh waktu sekitar satu tahun untuk proses ini," kata pria yang juga pengurus PRSI Pusat ini.

Meski tanpa atlet asing, kata dia, renang keliling Danau Toba ini tetap diikuti atlet nasional. Bahkan atlet ini telah beberapa kali turun pada kejuaraan internasional termasuk di Barcelona Spanyol beberapa waktu lalu.

Ditanya sistem perlombaan yang dilakukan, Amir Husein menjelaskan, 12 atlet sebelumnya dilepas secara bersamaan. Hanya saja setelah lima kilometer delapan atletnya naik ke kapal guna mempersiapkan diri untuk menggantikan posisi empat perenang lain.

"Setiap 10 kilometer akan ada pergantian. Hari ini harus menyelesaikan 40 kilometer dalam waktu sembilan jam. Setelah itu istirahat dan besok dilanjutkan lagi," kata Amir menegaskan.

Renang keliling Danau Toba yang sebelumnya dibidik untuk mendongkrak pesta bagi masyarakat Batak ini menempuh jarak kurang lebih 120 kilometer yang akan ditempuh dalam waktu tiga hari dengan sistem estafet.(antara)

Festival Danau Toba

Written By Unknown on Senin, 09 September 2013 | 22.50

Festival Danau Toba

MEDAN - Festival Danau Toba (FDT) akan digelar secara meriah pada 8-14 September 2013 di Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Seluruh pemangku kebijakan dalam pesta tahunan ini berharap FDT 2013 dapat membangkitkan pariwisata di Sumut.

Pada tahun ini, gelaran yang sebelumnya bernama Pesta Danau Toba (PDT) tersebut langsung ditangani oleh Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kabupaten Samosir tahun ini menjadi pihak penyelenggara dengan dukungungan 11 Kabupaten/Kota di sekitar Danau Toba.

Masa keemasan pariwisata Sumut terjadi sebelum krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997-1998 silam. Wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Sumut, khususnya ke Danau Toba pada 1996 tercatat mencapai 4 juta orang.

Dinas Pariwisata Sumut mencatat khusus Wisman yang berkunjung ke Sumut pada 1995 mencapai 301.287 orang. Kemudian terus menurun pada 1996 tercatat 292.930 orang, pada 1997 mencapai 244.916, pada 1998 mencapai 141.899 orang, dan penurunan terbesar terjadi pada 1999 yang mencapai 89.271 Wisman.

Banyaknya jumlah Wisman terutama dari Eropa pada saat sebelum krisis ekonomi terjadi akibat adanya penerbangan langsung dari Eropa ke Bandara Internasional Polonia Medan yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan nasional maupun internasional. Namun, terjadinya krisis ekonomi mengakibatkan semua maskapai penerbangan menutup rute Eropa-Polonia sehingga membuat jumlah Wisman anjlok. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut melaporkan jumlah kunjungan Wisman pada 2012 mencapai 241.833 orang, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 223.126 orang. Sedangkan jumlah kunjungan Wisman sepanjang Januari-Juni 2013 mencapai 122.785 orang, naik 4,50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Khusus Wisman pada Juni 2013 justru mengalami penurunan 1,23% menjadi 23.420 orang dibanding Mei 2013 yang sebanyak 23.712 orang. Wisman Sumut masih didominasi warga negara Malaysia yang menempati urutan terbanyak mencapai 12.546 orang (56,57%), kemudian disusul Singapura sebanyak 2.003 orang (6,43%), China 750 orang (3,27%) dan Belanda 580 orang (2,03%).

Wisman asal Australia mengalami peningkatan kedatangan tertinggi yakni 59,94%, diikuti Amerika Sertikat 48,3%, lalu Taiwan sebesar 44,67%, Singapura sebesar 43,79% dan Belanda 25%. Sementara wisman asal Malaysia turun 13,67% dari 14.533 orang menjadi 12.546 orang dan dari China turun 12,79%.

Kendati demikian, jumlah Wisman yang berkunjung ke Sumut beberapa tahun terakhir belum mampu melampaui jumlah kunjungan sebelum krisis ekonomi 1997-1998. Padahal, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemkab/Pemkot di Sumut termasuk menggelar Pesta Danau Toba.

Pesta Danau Toba yang dimulai sejak 1980 sesungguhnya telah menarik wisatawan. Namun, gelaran pesta masyarakat Danau Toba ini sempat terhenti selama 4 tahun pada 1987 menyusul tragedi tenggelamnya kapal Peldatri. 

Untuk kembali menggairahkan pariwisata Danau Toba, pada 2002 Pesta Danau Toba diambilalih oleh Pemprov Sumut dari sebelumnya hanya dikelola oleh masing-masing kabupaten/kota. Sejak saat itu, PDT dikoordinir oleh Pemprov Sumut dengan dukungan masing-masing kabupaten/kota di sekitar Danau Toba.

Pelaksanaan PDT 2012 yang digelar di Parapat, Kabupaten Simalungun, pada 29-31 Desember diperkirakan hanya menggaet sekitar 10.000 wisatawan lokal. Pada tahun-tahun sebelumnya, gelaran PDT ditempatkan di Parapat dengan jadwal yang berubah-ubah. 

Bupati Samosir Mangindar Simbolon yang juga ketua panitia FDT 2013 menjelaskan mulai tahun ini gelaran pesta FDT akan dilakukan setiap minggu kedua pada bulan September. Hal itu dimaksudkan agar wisatawan dapat membuat perencanaan jadwal berkunjung ke Danau Toba setiap gelaran FDT jauh-jauh hari.

Dia mengakui Wisman yang berkunjung ke Sumut terutama asal Eropa sempat anjlok sejak masa keemasan 1995-1996. Berbagai kendala yang menjadi penyebab menurunnya jumlah Wisman terutama akibat penutupan penerbangan langsung Eropa-Medan saat krisis ekonomi.

"Sekarang jumlah Wisman sudah mulai naik lagi, kendalanya banyak faktor salah satunya sekarang sudah tidak ada lagi penerbangan langsung dari Eropa. Harapan kami setelah ada KNIA akan ada lagi penerbangan dari Eropa, tidak hanya dari Belanda," ujarnya kepada Bisnis, (Sumber Bisnis.com)

Parade Budaya Batak Buka Festival Danau Toba

Written By Unknown on Minggu, 08 September 2013 | 18.19

Parade Budaya Batak Buka Festival Danau Toba

Metrotvnews.com, Samosir: Parade budaya Batak secara resmi mengawali dibukanya Festival Danau Toba 2013 oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Open Stage, Samosir, Minggu (8/9).

Tarian Tortor Sawan massal yang diikuti oleh ratusan remaja putri menjadi pembuka festival terbesar dan diharapkan menjadi agenda internasional ini.

Mereka menari dengan diiringi alunan musik khas Batak. Saat ratusan remaja putri ini menari, ribuan orang yang hadir banyak yang histeris karena mereka menunjukkan keahliannya dalam memainkan cawan yang dibawanya. Bahkan beberapa cawan yang dibawa jatuh dan pecah. 

Kondisi ini membuat suasana lebih dramatis Setelah Tortor Sawan parade budaya dilanjutkan dengan Sulang-Sulang yaitu sebuah tradisi yang merupakan ungkapan terima kasih kepada orang tua. Saat Sulang-Sulang berlangsung, ribuan penonton  cukup menghayati ritual ini.

Selain Tortor Sawan dan Sulang-Sulang, pembukaan Festival Danau Toba 2013 juga dimeriahkan artis nasional dan artis-artis terkenal dari Tanah Batak.

Ketua Umum Festival Danau Toba 2013, Mangindar Simbolon mengatakan tema festival yang menggabungkan budaya dengan olahrag raga ini adalah "Arga Do Bona Ni Pinasa" atau menghargai tanah leluhur.

"Festival Danau Toba merupakan lanjutan dari Pesta Danau Toba yang selama ini digelar. Namun, untuk tahun ini dibuat lebih besar karena melibatkan banyak pihak," katanya di sela pembukaan festival.

Dengan adanya peningkatan kegiatan, kata dia, diharapkan Festival Danau Toba bisa menjadi kegiatan utama di Sumatra Utara maupun Indonesia sehingga mampu bersaing dengan kegiatan lainnya bahkan bisa lebih dikenal di seluruh dunia.

"Festival ini akan didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hingga lima tahun kedepan. Meski demikian harus mendapatkan dukungan pihak lain agar kegiatan ini lebih besar lagi," kata Wamenparekraf Sapta Nirwandar.

Setelah parade budaya selesai, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa secara resmi membuka Festival Danau Toba yang akan berangkhir 15 September nanti. Pembukaan festival ditandai dengan menabuh gendang khas Tanah Batak.

"Semoga festival ini bisa berdampak positif bagi masyarakat Samosir pada khususnya. Selain itu bisa meningkatkan ekonomi masyarakat," katanya di sela pembukaan.

Sebelum pembukaan Festival Danau Toba dilakukan ada beberapa prosesi yang dilakukan diantaranya menyebar daun sirih di tengah-tengah Danau Toba. Setelah itu dilanjutkan upacara penyambutan oleh para tetua Tanah Batak. (Antara)

Protes Kerusakan Hutan Danau Toba, Tiga Aktivis Kembalikan Penghargaan dari SBY

 Protes Kerusakan Hutan Danau Toba, Tiga Aktivis Kembalikan Penghargaan dari SBY

TRIBUNNEWS, JAKARTA - Tiga orang aktivis lingkungan asal Sumatera Utara mengembalikan penghargaan yang mereka dapatkan dari pemerintah sebagai bentuk protes mereka atas kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kawasan Danau Toba.

Marandus Sirait, Wilmar Simanjorang dan Hasoloan Manik adalah peraih penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup Kalpataru dan Wanalestari. Mereka menilai pemberian penghargaan tersebut tidak lebih dari selebrasi semata, karena tidak ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah untuk membantu upaya pelestarian lingkungan.

"Kami kembalikan kepada negara karena di seluruh kawasan di Danau Toba perusakan semakin tak terkendali, di depan mata, seolah-olah bebas saja tanpa hambatan," ujar Marandus Sirait di Sekretariat Walhi, Jakarta, Minggu (1/9/2013).

Sebagai penerima penghargaan Kalpataru dan Wanalestari dari pemerintah, mereka merasa turut memiliki beban moral jika ternyata pemerintah tidak mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan.

Oleh karenanya mereka mengembalikan penghargaan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral selaku peraih penghargaan.

Mereka menyebut saat ini kondisi ekosistem Danau Toba telah mengalami kerusakan dalam taraf yang cukup serius, hal tersebut nampak dari luas tutupan hutan yang terus berkurang dan kualitas air danau yang telah tercemar.

"Kami sudah adukan ke bupati, ke presiden SBY, kementerian LH, kemenhut, gubernur Sumut, Kejakgung, Mabes Polri, Kapolres Samosir. Menteri LH bilang hentikan itu (penebangan hutan) tapi cuma omong doang," ujar Wilmar Simanjorang.

Ia menilai Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai kawasan tujuan wisata dan kawasan strategi nasional harus dijaga kelestariannya, sehingga kegiatan yang bersifat merusak seperti penebangan hutan harus dihentikan, termasuk pemberian izin kepada perusahaan-perusahaan yang melakukan perusakan lingkungan.

Ikon Festival Danau Toba 2013 Sigale-gale Raksasa

Ikon Festival Danau Toba 2013  Sigale-gale Raksasa


MEDAN - Panitia Festival Pesta Danau Toba telah menyiapkan sebuah boneka Sigale-gale raksasa sebagai ikon fisik pelaksanaan Festival Pesta Danau Toba (FDT) 2013. Boneka ini akan dipajang selama perhelatan FDT 2013 pada 8-14 September mendatang.

Boneka raksasa setinggi hingga 15 meter itu akan diletakkan di atas air sehingga boneka tersebut seolah-olah bisa menari. Bentuknya seperti Sigale-gale yang biasa dipertunjukkan di lokasi wisata Tuk-Tuk Siadong, di tepi Danau Toba.

Ketua Panitia Festival Danau Toba, Mangindar Simbolon, mengatakan bahwa boneka raksasa dari material kayu itu akan diletakkan di sekitar teluk antara kawasan wisata Tuktuk dan Bukit Beta Samosir. Boneka tersebut dibangun di atas pondasi berbentuk keramba, yang mengambang sehingga nantinya bisa bergerak mengikuti gelombang air danau.

"Sudah kita datangkan Sigale-gale dari pembuatnya di Jakarta dengan kontainer. Sekarang sedang pemasangan dan finalisasi. Nanti bonekanya memakai pakaian adat Batak dan menari-nari di atas air. Itu ikon resmi Festival Danau Toba 2013," katanya di Medan, Jumat (6/9/2013).

Mangindar juga mengatakan, boneka tersebut akan dilengkapi cahaya lampu yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga dapat terlihat indah dari kejauhan, khususnya pada malam hari. "Berlampu nanti dia, warna-warni. Dan, karena lokasinya terbilang strategis, nanti dari kejauhan pun kelihatan, termasuk dari Parapat dan Tanah Karo. Kan besar sekali ini," jelasnya.

Sigale-gale merupakan boneka kayu legendaris khas suku Batak. Pada upacara khas suku Batak di Sumatera Utara, boneka kayu yang diukir menyerupai manusia ini digunakan untuk menari Tor-tor.

Di balik boneka Sigale-gale ini ada sebuah legenda. Sigale-gale merupakan interprestasi dari Manggale, anak seorang raja bijaksana yang gugur di medan perang. Sang raja sangat terpukul dengan kematian anaknya hingga ia jatuh sakit.

Salah seorang tabib yang mengobati sang raja meminta penasehat kerajaan untuk memahatkan kayu berwajah mirip Manggale. Dia kemudian memanggil dan memasukkan roh anak sang raja ke dalam boneka tersebut. Sang raja pun sembuh karena seolah melihat boneka yang mirip dengan anaknya, Manggale.
Diberdayakan oleh Blogger.

Sejarah

Health

World News

Kategori

Random Post

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Berita Danau Toba - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger